ABOUT US

TECHNOLOGY

  • Resume Seminar OSKM 2013

    Pak Gita Wirjawan

     Supaya Indonesia bisa maju, dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa menyeimbangkan antara tuntutan zaman dan permintaan rakyat. Untuk melakukan itu, sosok pemimpin tersebut harus mempunyai visi yang jelas dan mampu menjelaskan visinya tersebut ke komunitas internasional. Contoh dari pemimpin bervisi jelas adalah Ir. Soekarno.
                    Umat Islam dunia berjumlah 23% dari penduduk dunia, tetapi negara muslim hanya menempati 9% dari perekonomian dunia. Oleh karena itu, untuk memajukan perekonomian Indonesia harus berprinsip pluralisme. Tetapi jangan lupa pula dengan kearifan lokal Indonesia. Dan juga bangsa kita harus bisa meng’gangnam’kan diri di bidang teknologi, demokrasi, budaya, dan ekonomi. Kita yakin Indonesia pasti bisa maju, karena Indonesia memiliki modal dasar seperti letak geografis dan SDA. Pada masa sekarang saja pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6%. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar itu 20 tahun lagi kue perekonomian akumulatif Indonesia bisa mencapai 60 triliun dari 1 triliun. Tapi hal ini akan sulit jika kue perekonomian kita besar tetapi tidak terisi oleh Indonesia. Makanya, kita seharusnya menggunakan produk lokal supaya kuenya terisi dengan merah putih.
                    Contoh dari negara Asia yang maju perekonomiannya adalah Korea Selatan. Kesuksesan mereka berawal dari ‘Reformasi Agraria’ yang kemudian dilanjutkan dengan diversifikasi. Yang dimaksud disini adalah para petani tadi setelah sukses menanam jagung, padi dan sebagainya lalu mereka membuat perangkat teknologi seperti hp dan mobil. Sebegitu suksenya Korea Selatan sehingga 20 tahun setelah kemerdekaan mereka bahkan dapat mengekspor budaya mereka pula seperti kpop.
                    Untuk memajukan perekonomian, bangsa Indonesia harus bisa mengsustain pertumbuhan ekonomi sebesar 7%, atau tidak Indonesia tidak akan bisa keluar dari ‘Middle Income Trap’, yaitu negara kita memiliki SDA yang melimpah tetapi penguasaan teknologinya sedikit, sehingga tidak dapat mengolah kekayaannya sendiri dan membeli produk olahannya dengan harga yang bisa mencapai 20x lipat yang bahan mentahnya dari bangsa ini. Selain itu, realisasi investasi luar jawa harus diperbesar untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Kemudian, hal lain yang harus dilakukan adalah hilirisasi produksi. Karena pada sektor hilir kegiatan produksinya lebih banyak sehingga banyak menyerap tenaga kerja. Untuk melakukan hal – hal diatas, semua bermuara pada sektor pendidikan dan pendanaan. Penurunan suku bunga merupakan satu cara untuk meningkatkan perekonomian karena dengan suku bunga rendah UKM bisa mendapatkan modal lebih banyak untuk ekspansi usaha mereka.
                    Indonesia akan menjadi salah satu anggota dari ‘masyarakat ekonomi ASEAN’ yang berlaku pada tahun 2020. Yang jadi pertanyaan, apakah Indonesia siap menghadapinya? Karena dengan berlakunya ‘masyarakat ekonomi ASEAN’ maka akan terjadi perdagangan bebas antar negara ASEAN. Negara – negara lain seperti Thailand dan Vietnam  sudah bersiap. Dan seharusnya Indonesia memikirkan cara bersaing secara global.   

    Wanadri

                    Indonesia memiliki 17.000 pulau, luas negara 1.800.000 Km2, dan penduduk 250.000.000 jiwa. Sebenarnya luas Indonesia pada saat proklamasi yaitu 1.500.000, tetapi setelah Deklarasi Juanda 3x lebih luas karena ZEEnya diukur dari 92 negara terluar. Untuk bentang alam Indonesia sendiri sangat beragam, bahkan memiliki regional seperti yang dibatasi dengan garis Wallace dan Weber. Untuk garis pantainya sendiri no 2 terpanjang setelah Amerika. Sungai di Indonesia sendiri beragam, mulai dari sungai daerah Kalimantan yang sangat landai sampai sungai di Jawa dan Sumatra yang deras karena banyak gunung tinggi. Ada lagi di Indonesia yaitu pegunungan karst, medan khatulistiwa, dataran di Kalimantan. Di Indonesia terdapat banyak sekali gunung berapi mulai dari Sumatra sampai Papua kecuali Kalimantan.
                    Tetapi, Indonesia juga memiliki kendala-kendala. Contohnya yaitu interpretasi budaya. Selain itu, negara Indonesia juga rawan terkena bencana karena memiliki banyak gunung berapi, titik gempa,dll. Yang ketiga adalah karena Indonesia berbatasan dengan 10 negara maka Indonesia rawan terkena masalah perbatasan dengan negara lain.
                    Cara mencintai tanah air kita ada bermacam cara. Salah satunya dengan cara Wanadri dengan cara menelusuri daerah – daerah di tanah air yang jarang terjelajahi untuk mengenal dan mencintai Indonesia lebih dalam.
                    Saran – saran untuk  cinta tanah air yaitu sadar diri, sadar lingkungan, dan sadar tujuan.

    Ibu Tri Mumpuni

    Manusia memiliki logika dan empati yang harus digunakan dalam berkomunikasi. Jika menggunakan logika tanpa empati, maka akan mengakibatkan membaca Indonesia untuk diri sendiri tanpa memperhatikan lingkungan ataupun negara. Padahal, jika menggunakan empati SDA bisa mengempower masyarakat. Tetapi perekonomian saat ini umumnya hanya memperhatikan angka & pertumbuhan tanpa memperhatikan lingkungan dan sosialnya. Oleh karena itu, untuk mengubah sistem ekonomi yang tidak manusiawi,harus ada perubahan paradigma investasi. Cara mengubahnya yaitu dengan pendidikan.

    Kak Saska

    Kak Saska memiliki komunitas “Riset Indie” yang bergerak di bidang sosial ekonomi. Proyek – proyeknya yaitu proyek polaroid, proyek alinea, dan proyek angkot day. Proyek alinea yaitu proyek pembuatan animatronik pertama di Indonesia. Sementara itu, proyek angkot day yaitu proyek dimana angkot trayek Dago – Kalapa akan digratiskan seharian dengan pelayanan yang memuaskan. Proyek angkot day berasal dari berbagai keluhan masyarakat mengenai angkot Kota Bandung.
                Alasan dari Kak Saska untuk membuat komunitas semacam ini untuk penyalur hobinya dan teman – teman, semacam unit di kampus. Hal yang menginspirasinya sehingga menjadi seperti sekarang yaitu karena beliau telah mengalami 2 kali kehilangan, yaitu kehilangan kakak tingkat yang dihormati dan ayahnya. Dan pengalaman selama kuliah di unit dan himpunan kampus serta dari luar kampus membuatnya tertarik untuk bergerak di bidang sosial ekonomi. Oleh karena itu, beliau menyarankan bagi para mahasiswa baru untuk mencari hard skill dan soft skill selama kuliah.

    Fania Feby Ramadhani
    16113093

    SITH - S
  • Resume Seminar OSKM 23 Agustus 2013

    Seminar I
    Seminar yang pertama disampaikan oleh Menteri Perdagangan RI, Bapak Gita Wirjawan. Beliau menjelaskan bahwa Indonesia butuh pemimpin yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Pemimpin wajib memiliki tujuan yang positif. Seorang pemimpin harus mengerti tentang kearifan local. Jika pemuda mengerti dan melestarikan kearifan local, maka jati diri bangsa akan tetap ada.
    Beliau berpesan “Jadilah garuda yang kreatif, terampil, berteknologi, yang memiliki semangat kebangsaan dan menjunjung kearifan local di dalam dan luar kampus.”

    Seminar II
    Seminar yang kedua disampaikan oleh Menteri Wanadri (Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung), Indra Hidayat. Tim ekspedisi ini telah mencapai puncak di beberapa gunung tertinggi dunia. Intinya, Indonesia tidak hanya kaya akan SDA tetapi juga kaya akan budaya. Hanya saja masalah yang dihadapi adalah intervensi budaya dan bencana – bencana.

    Seminar III
    Seminar yang ketiga disampaikan oleh seorang pemberdaya listrik yang dianugrahi Ashden Award 2012, Ibu Tri Mumpuni. Seminar beliau berjudul “Integritas dan Kompetensi Pemuda untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Bangsa”
    Sifat dasar manusia terdiri atas logika dan perasaan serta akal sehat yang dapat menyeimbangkannya. Jika kita memiliki ketiga hal ini maka kita dapat menjadi pemimpin yang berintegritas yang dapat membangun bangsa.

    Seminar IV
    Seminar yang keempat disampaikan oleh Pendiri dan CEO Riset Indie, Kak Saska. Karena kemajuan teknologi, orang – orang lebih banyak menggunakan kamera digital daripada kamera analog. Melaksanakan projek yang berlangsung tanggal 21 September yaitu Angkot Day, yang berlandaskan permasalahan kemacetan di Bandung.

                                                                                                                                                                 Fetrian, FTSL

                                                                                                                                                                     16613407
  • Resume Seminar OSKM 2013

         Tepat pada tanggal 23 Agustus 2013, panitia OSKM 2013 kembali menggelar acara seminar yang menyuguhkan berbagai materi motivatif bagi kami, para maba ITB 2013. Adapun pemateri yang didatangkan adalah Bapak Gita Wirjawan, Kelompok WANADRI Indra Hidayat, Ilham Fauzi, dan Ihsan, Ibu Tri Mumpuni, dan terakhir Pak Saska. Keempat pemateri ini sangat piawai dalam membekali kami pada insan muda ganesha dengan presentasi yang memukau. Konteks yang padat dan komunikatif mereka, mampu membuat seisi sabuga bergelora, dan membakar semangat nasionalisme kami. Untuk lebih jelasnya, saya akan menjelaskan satu per satu.
        Bapak Gita Wirjawan merupakan pemateri pembuka yang manis pada acara kali ini. Beliau merupakan Menteri Perdagangan Republik Indonesia sekaligus sebagai Ketua PSBI yang tercetak telah meraih banyak penghargaan untuk Indonesia. Pada kesempatan ini, beliau memaparkan bahwa Perekonomian Indonesia sangat membutuhkan orang yang mengerti akan rakyatnya. Orang yang mencerminkan 3 unsur pemimpin, yaitu demokratis, pluralisme, dan berbudaya. Melihat kebelakang, Perekonomian Indonesia merupakan yang ke 15 jika disejajarkan dengan negara kelas dunia. Jika direlevansikan dengan dominasi penduduk Islam yang ada di negara kita, seharusnya, Indonesia bisa mengisi lebih dari 9 % perekonomian dunia. Dimana di era demokrasi ini, Sistem perekonomian dipegang selebihnya oleh masyarakat Tionghoa yang mapan. Fenomena ini bisa disebabkan dari hilangnya kecintaan produk merah putih dimana masyarakat kita lengah menerapkan prinsip "berbudaya dengan bangga berbangsa". Oleh karena itulah, "PR" insan muda ganesha sebagai calon generasi bangsa sangatlah banyak. Salah satunya proyek 2030 dimana Produktivitas kerja masyarakat kita harus ditingkatkan hingga 60% lebih per unit. Jika tidak, konsekuensinya adalah terhempasnya middle income trap ke negeri ini. Selain itu, indeks rasio gini sekarang harus diturunkan karena sebelumnya Indonesia naik 16 digit dari angka 31. Upaya lainnya ialah meningkatkan penanaman modal, serta Industrilisasi dan Hilirisasi, juga menjadikan Indonesia sebagai Resource Economy bukan hanya Knowledge Economy. Pada akhirnya, produk pendidikanlah yang berperan penting dalam memajukan Sistem Indonesia. Generasi bangsa haruslah dicetak bermutu agar bisa bersaing di kancah dunia ekonomi, juga membalikan pamor Indonesia dari "Nasionalist menjadi Internasionalist". Dan yang paling penting adalah jadilah garuda yang kreatif, terampil, melek teknologi, bersemangat kebangsaan, juga menjunjung tinggi kearifan lokal.
        Selanjutnya, seminar dibawakan oleh ketiga pemuda WANADRI. Inti dari materi yang disampaikan adalah perlunya kesadaran diri, lingkungan, dan tujuan para generasi bangsa akan Kekayaan Indonesia yang melimpah. Perlu diketahui bahwa Indonesia mempunyai cakupan wilayah yang sangat luas, bahkan saat ini merupakan 3 kali lipat dari luas saat masa proklamasi. Pembatasan garis weber - wallace Indonesia menjadikan kawasan kita "bioregional" yang kaya akan sumber hayati. Pesisir Indonesia pun mempunyai garis pantai terpanjangan kedua setelah Kanada. Selain itu, Indonesia ditaburi oleh sungai, datara, tapak kuno karst, ribuan pulau, serta gunung vulkanis dengan potensi biothermal yang luar biasa. Dengan melimpahnya surga alam ini, perwakilan pemuda WANADRI yang hadir, mengajak kita untung lebih melek sekitar dan memperhatikan kultur budaya yang beragam. Namun, adapula masalah yang menimpa negara kita antara lain Intervensi budaya Indonesia oleh budaya asing, Bencana alam, juga Indonesia yang rawan perbatasan. Maka, sudah seharusnyalah kita yang mengurus Indonesia sampai mencapai tingkat kemakmuran.
          Seminar ketiga pun dilanjutkan oleh Ibu Tri Mumpuni. Beliau merupakan sukarelawan yang peduli akan keberadaan penyediaan listrik di daerah-daerah terpencil seperti di Jawa Barat, Nusa Tenggara, Kalimantan dan banyak lagi. Beliau menyampaikan tentang Integritas dan Kompetensi alumni ITB untuk kemandirian dan kesejahteraan bangsa. Pada dasarnya manusia membutuhkan 2 unsur penting, yaitu Pengetahuan (logika) dan Empati (perasaan). 2 Hal ini harus dapat disambungkan dengan baik (Akal sehat), sehingga tercipta manusia bertintegrasi tinggi yang mampup melihat permasalahan Indonesia secara jernih.  Terkait dengan kemampuan integritas, Sumber Daya Alam kita pun harus dikelola dengan baik. SDA akan termanfaatkan efektif apabila kita semua mempunyai paradigma pembangunan yang benar. Mindset ini nantinya akan dijadikan power bagi insan muda ganesha untuk bangun negeri. Selain itu, bergesernya paradigma ekonomi dari keselarasan investasi dan konsumsi menjadi alat hitung belaka, juga menyebabkan kita tak bisa memanfaatkan SDA. Solusinya adalah, menjadikan generasi kita sebagai Social Enterpreneur yang unik dan berintegirtas.
         Materi terakhir datang dari Alumni STEI  ITB kita, Pak Saska. Beliau banyak membagikan kisah inspiratif hidupnya, yang dirangkai dalam organisasi "Riset Indie" yang beliau dirikan sendiri. Riset Indie merupakan sarana penelitian di ranah Techno, Social, dan Media yang berbasis independen. Terjunnya beliau dalam dunia ini membuat kita sadar akan pentingnya kemampuan berorganisasi atau sofskill disamping kemampuan akademik kita. Kita harus mampu membangun jiwa good softskill yang utuh agar dapat bersaing di masa depan. Selain itu, beliau mengajarkan kita agar kita harus dapat memberikan kontribusi terbesar kita pada Indonesia kelak. Tapi, semua butuh proses dan bertahap dari sesuatu yang kecil ke yang lebih besar. Untuk itulah kita juga harus mempunyai sikap visioner agar menjadi Pahlawan Indonesia yang sesungguhnya.

    Oleh ; Fakhira Rifanti M. - SITH - R
  • Resume Seminar OSKM (Millatul K)


    SEMINAR OSKM
    Berkemahasiswaan Berdasarkan Kearifan Lokal
        I.        Materi 1 : Cinta Indonesia
    Pembicara: Gita Wirjawan (Mentri Perdagangan 2011-2014)
    Uraian Isi:
    ·         Indonesia menjadi urutan ke 15 dalam hal perekonomian.
    ·         Negara yang sukses harus mempunyai unsure demokrasi, pluralisme, dan kemerdekaan. Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin muda yang mengedepankan kearifan local.
    ·         Gangnam mempunyai 4 unsur, yaitu kemahiran teknologi, kesinambungan demokrasi, kekayaan budaya, dan kemajuan ekonomi.
    ·         Kita harus menjadi orang yang berbudaya dan bangga dengan bangsa Indonesia.
    ·         Untuk memajukan Indonesia tantangannya tidaklah sedikit.
    ·         Indonesia dalam hal meningkatkan produktifitas kerja masih sangat kurang. Indonesia mampu memproduksi barang, tetapi tidak bias berteknologi secara maksimal sehingga Indonesia tidak punya nilai tambah.
    ·         Industrialisasi dan hilirisasi tidak bias, tanpa kemampuan teknologi.
    ·         Tiga pilar tujuan didirikannya organisasi ekonomi asean adalah untuk base produksi, pasar kolektif, ekonomi yang kompettif, dan integrasi dengan ekonomi global.
    ·         Indonesia butuh pemimpin yang bias menjawab tantangan jaman. Bisa responsive terhadap permintaan rakyat. Keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Mengedepankan nasionalisme dalam kemajuan.
     II.        Materi 2: Cinta Tanah Air
    Pembicara: Wanadri (Indra Hidayat)
    Uraian isi:
    ·         Kekayaan alam Indonesia meliputi pulau-pulau, sungai, bioregional, pesisir, tapak purba, karst, gunung vulkanis, dataran, dll. Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan budaya.
    ·         Kendala/ masalah yang biasanya dihadapi Indonesia adalah bencana alam, intervensi budaya oleh luar negeri, dan masalah perbatasan.
    ·         Setiap orang harus sadar dir, sadar lingkungan, dan sadar tujuan.
    ·         Empat pokok WANADRI adalah:
    1.     Pendidikan
    2.    Penjelajahan dan pengembangan ilmu pengetahuan
    3.    Bakti masyarakat
    4.    Perlindungan alam.
    III.        Materi 3: Integritas dan Kompetensi Alumni ITB untuk Kemandirian dan Kesejahteran bangsa
    Pembicara: Ibu Tri Mumpuni
    Uraian isi:
    ·         Dua hal penting yang harus kita miliki adalah:
    1.     Pengetahuan/ logika
    2.    Perasaan/ empati
    ·         Kedua aspek tersebut harus saling berhungan dan jangan saling terpisah.
    ·         Jika paradigm benar dan pro kearifan local maka masyarakat Indonesia akan makmur.
    ·         Lebih dari 60 juta anak Indonesia tidak bias merasakan pendidikan yang layak.
    ·         Ekonomi: keadaan setimbang dinamis antara investasi dan konsumsi untuk mencapai setinggi-tingginya pertumbuhan.
    ·         Perumbuhan harus terikat pada nilai optimal untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat local dan daya dukung lingkungan setempat. Tetapi pada faktanya Indonesia belum bias seperti itu. Padahal kita mempunyai intelektual dan kekayaan alam yang cukup.
    ·         Setiap orang akan melakukan kegiatan yang disukainya dengan sebaik-baiknya. Manusia bukanlah mesin yang hanya memproduksi.
    ·         Definisi ekonomi yang manusiawi adalah keadaan kehidupan jutaan manusia yang melakukan kegiatan yang disukainya sabaik-baiknya.
    Cara untuk manusiawi adalah:
    1.     Pelurusan visi pembangunan
    2.    Perubahan paradigm investasi
    3.    Pembatasan pertumbuhan usaha
    ·         Sumberdaya local dan komunitas local butuh teknologi, keuangan, dan manajemen. Sayangnya komunitas local terlepas dari definisi tersebut sehingga hanya diambil Sumber daya lokalnya saja.
    ·         Bukan materi pendidikan formal saja yang perlu diajarkan, tetapi juga pendidikan lingkungan.
     IV.        Materi 4: Riset.Indie
    Pembicara: Seterhen Akbar (saska)
    Uraian isi:
    ·         Pembicara pernah berpangalaman dalam beberapa usaha, diantaranya:
    1.     Project Polaroid
    Menggunaka kamera Polaroid. Proses pengambilan, percetakan, dan pemasaran. Tetapi akhirnya bangkrut.
    2.    Animator unik
    Atau disebut dengan project alinea.
    Koncepnya yaitu pembuatan robot alien wanita.
    3.    Angkot day
    Tujuannya adalah untuk mengatasi kemacetan di Bandung.
    Yaitu program sehari naik angkot dengan aman, nyaman, tertib, dan gratis. Program ini akan ditestimoni pada tanggat 20 September 2013. Tujuan lainnya adalah untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan menarik masyarakat ubtuk lebih memilih naik angkot.
    ·         ITb adalah miniature Indonesia
    ·         Awalnya mahasiawa baru akan bereuforia karena bangga bias masuk ITB. Lama-lama mereka akan menjadi idealis, hingga akhirnya pragmatis atau bijaksana.
    ·         Jadilah orang yang aktiv dimana-mana dan banyaklah belajar.
    Oleh: Millatul Khasanah_FTSL 2013_16613227

  • Sejarah dan Timeline Kemahasiswaan ITB

    Era Kolonial Belanda dan Jepang
    Terbentuk organisasi kemahasiswaan tertua di Bandung yaitu Bandoeng Studenten Corps (BSC). Pada masa ini, mahasiswa pribumi yang bersekolah di Technische Hoogeshcule te Bandoeng (TH Bandoeng) sudah merasakan perbedaan budaya dengan teman2nya yang berasal dari Belanda dan mahasiswa2 pribumi ini kemudian membentuk perkumpulan sendiri yaitu Indonesische Student Vereniging (ISV) yang terpisah dari organisasi mahasiswa resmi saat itu yang didominasi oleh tuan-tuan Belanda. Perkumpulan ini menyelenggarakan diskusi-diskusi mengenai ilmu teknik, politik, mengadakan kegiatan olahraga, bermain catur dan tak ketinggalan berdarmawisata.
    Soekarno (presiden RI pertama) terdaftar sebagai mahasiswa mulai tahun 1921, tapi dua bulan kemudian meninggalkan kuliah untuk bersatu dalam perjuangan bangsanya. Baru tahun 1922 ia mendaftar kembali dan lulus tahun 1926.
    TH Bandoeng sempat berganti nama di era kolonial Jepang menjadi Institute Of Tropical Sciences (1942) dan Bandung Kogyo Daigaku (1944)
    Era Kemerdekaan
    Setelah kemerdekaan, Bandung Kogyo Daigaku dibuka kembali dengan nama Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung). Terbentuk Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Bandung. Suasana revolusi menyebabkan kampus STT Bandung mempunyai multifungsi. Gejolak bangsa saat itu membuat STT Bandung merupakan kesatuan dari potensi SDM, ilmu dan teknologi, laboratorium dan peralatan yang semuanya dikerahkan untuk perjuangan kemerdekaan. Bulan Oktober 1945 didepan anggota KNIP, dicetuskan ikrar bersama mahasiswa yang menyatakan tekad mahasiswa Indonesia untuk tidak sudi kembali ke kampus selama kemerdekaan penuh bangsa Indonesia belum tercapai.

    STT Bandung kemudian pindah ke Yogyakarta untuk kemudian bergabung dengan beberapaa akademi dan sekolah tinggi membentuk Universitas Gadjah Mada
    Era 1950an
    Pada masa ini, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Bandung masih dalam naunngan Universitas Indonesia. Saat itu terbentuklah Dewan Mahasiswa UI Bandung yang beranggotakan himpunan-himpunan mahasiswa teknik. Pada tahun 1955, lahirlah Dewan Mahasiswa UI yang diketuai oleh Emil Salim yang kemudian menggabungkan DM UI Bandung yang terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas Teknik dan FIPIA.
    1957 Deklarasi pembentukan Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) di Aula Barat sebagai wadah organisasi intra universitas seluruh Indonesia
    2 Maret 1959 Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam dipisahkan dari Universitas Indonesia menjadi Institut Teknologi Bandung.
    2 November 1960, berdasarkan persetujuan Senat Mahasiswa Departemen Ilmu Teknik, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, serta Ilmu Kimia dan Ilmu Hayati, terbentuklah Dewan Mahasiswa ITB yang diketuai oleh Piet Corputty. Dewan Mahasiswa terdiri dari Sidang Dewan (Legislatif) dan Badan Pengurus (Eksekutif). DM ITB saat itu lebih mengutamakan konsolidasi organisasi. Namun karena adanya perjuangan membebaskan Irian Barat, maka DM ITB mendukung penuh seruan tersebut dengan ikut serta mengirimkan sukarelawan. Advokasi mahasiswa untuk menolak penggabungan ITB ke Universitas Padjajaran yang baru berdiri.
    1963 Pada kerusuhan 10 Mei 1963 yang berbau rasial, tokoh mahasiswa Muslimin Nasution. Uniknya walaupun dalam tahanan, Muslimin terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa ITB. Konfrontasi antara DM ITB dengan CGMI-GMNI yang berporos Nasakom. Saat itu DM ITB dijuluki ‘The Last Stronghold’ oleh masyarakat anti-komunis.
    1964 Pembangunan Masjid Salman dimulai. Pada Kongres MMI ke-IV di Malino, Sulsel, DM ITB dikeluarkan dan terkucil dari pergaulan antar DM. Terjadi kericuhan saat MAPRAM 1965.
    1965 Peristiwa Gerakan 30 September, DM ITB dibawah pimpinan Rachmat Witoelar menyatakan mengutuk peristiwa tersebut. Terbentuk KAMI Bandung yang tidak hanya beranggotakan organisasis ekstra kampus, namun juga organisasi intra kampus. Terbentuk juga Komite Aksi Pembersihan ITB (KAPI), yang bertujuan membersihkan ITB dari pengaruh komunis.
    1966 Perjuangan menegakkan Tritura. Pada bulan Februari 1966, KAMI Bandung dipelopori DM ITB mengirim 200 mahasiswa untuk membantu mahasiswa Jakarta yang terdesak akibat terbunuhnya Arief Rahman Hakim. Dipimpin tokoh-tokoh seperti Rudianto Ramelan, Muslimin Nasution, Arifin Panigoro, dan Fred Hehuat, KAMI Bandung melancarkan serangan-serangan ke obyek-obyek vital seperti Deplu RI, Kedubes dan Konsulat RRC.
    Perjuangan Tritura menghasilkan pemerintahan baru yang lazim disebut ‘Orde Baru’. DM ITB memberikan gelar Pahlawan Ampera kepada Fred Hehuat (Geologi) dan Pasma Situmorang (Mesin) yang aktif berjuang menegakkan Tritura.
    DM ITB tidak hanya berdemonstrasi untuk menumbangkan rezim Orde Lama, saat terjadi bencana banjir di Solo, DM ITB mengirim delegasi Misi Ampera untuk membantu korban bencana.
    Juni 1966 KM ITB terbentuk sebagai penyempurnaan dari DM ITB, terdiri dari MPM (legislatif), DM (eksekutif), dan BPM (perwakilan ekstra kampus)
    1968 Pernyataan sikap menolak adanya wakil-wakil mahasiswa di DPR Gotong Royong karena mahasiswa tidak sepatutnya berpolitik praktis
    1969 Advokasi kenaikan SPP mahasiswa.
    1970 Dipelopori oleh Wimar Witoelar (Ketua Umum 1969-1970) dan Syarif Tando (Ketua Umum 1970-1971), DM ITB menyerukan slogan back to campus untuk kembali kemahasiswaan yang telah rusak akibat politik nasakom. Pendirian Student Center dimulai, Unit-Unit kegiatan bermunculan, DM ITB memelopori konsolidasi mahasiswa se-Asia Tenggara dalam pertemuan ASEAUS. DM ITB juga mengadakan pekan olahraga mahasiswa Ganesha Interversity Games. Gagalnya inisiasi National Union of Student of Indonesia dilanjutkan dengan berdirinya Badan Kerja Sama Dewan/Senat Mahasiswa se-Bandung (BKS DM/SM Bandung).
    Usaha depolitisasi ini sebenarnya hampir berhasil, hanya saja pihak penguasa mulai menunjukkan gelagat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Pada tanggal 6 Oktober 1970, terjadi insiden antara taruna Akpol dengan seorang mahasiswa bernama Rene Louis Conraad (EL’70) yang mengakibatkan tewasnya Rene. Insiden ini sebenarnya berawal dari tawuran antara taruna Akpol dengan mahasiswa ITB akibat kalah dalam pertandingan sepak bola. Karena peristiwa ini, saat upacara pemakaman Rene, DM ITB mengadakan demontrasi dengan massa sepanjang 7 Km untuk menuntut pengusutan para tersangka pengeroyokan.
    1971 Protes DM ITB terhadap proyek Taman Mini Indonesia Indah.
    1972 Protes DM ITB kepada Bulog yang dianggap tidak becus mengurusi pangan.
    1973 Isu utang luar negeri yang tidak terkendali menjadi opini publik. Saat itu pengusaha Jepang dianggap Economic Animal oleh masyarakat Indonesia akibat modal mereka yang mencengkeram ekonomi nasional. Suatu pertemuan di bulan Desember 1973 di ITB yang dihadiri antara lain oleh Muslim Tampubolon (Ketua Umum DM ITB) Hariman Siregar (Ketua Umum DM UI) dan Adnan Buyung Nasution berhasil mengeluarkan sikap untuk menolak utang luar negeri.
    1974 Pertemuan 35 DM se-Indonesia tanggal 11 Januari atas undangan Hariman Siregar untuk menemui Presiden Soeharto di Bina Graha. 4 hari kemudian pecahlah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) yang pada awalnya bertujuan mendemonstrasi PM Jepang Kakuei Tanaka malah berubah menjadi huru-hara besar.
    Sementara itu mahasiswa Bandung berunjuk rasa di kampus UNPAD dengan membakar patung Soedjono Hoemardani, Aspri Presiden Soeharto. Saat itu mahasiswa Bandung mengeluarkan Tritura 1974 yang berbunyi: 1. Bubarkan Aspri, 2. Turunkan Harga, 3. Tolak Utang Luar Negeri.
    1974-1976 Konsolidasi organisasi DM ITB.
    1977 Gerakan anti kebodohan, adalah suatu konsep mendasar untuk mengentaskan pembodohan penguasa terhadap rakyat Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemahasiswaan Indonesia, Ketua Umum DM dipilih dengan sistem one student one vote secara langsung, umum, bebas, dan rahasia.
    28 Oktober 1977, DM se-Indonesia berkumpul di Bandung untuk menyatakan sikap menolak eksistensi Soeharto sebagai Presiden Indonesia. Bersama pelajar Bandung, DM se-Indonesia mengadakan aksi demonstrasi keliling Bandung.
    16 Januari 1978 Apel bersama 2000 mahasiswa ITB dipimpin Ketua Umum Heri Akhmadi menyatakan ‘Tidak Mempercayai dan Tidak Menginginkan Soeharto Kembali Sebagai Presiden Republik Indonesia!”. Penerbitan Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Pembuatan buku putih ini dimotori oleh Rizal Ramli, Ketua Dewan Mahasiswa. Penerbitan buku putih ini juga didukung beberapa intelektual kampus seperti Prof. Iskandar Alisjahbana (Rektor ITB) dan Prof. Slamet Iman Santoso (mantan Dekan Fakultas Psikologi UI).
    21 Januari dan 9 Februari 1978 Kampus diserbu dua kali dan diduduki militer 6 bulan lamanya. Mahasiswa lama dikumpulkan di lapangan basket dan diusir, hanya mahasiswa angkatan ’78 yang boleh berkuliah. Terjadi penembakan gelap di rumah Rektor ITB Prof. Iskandar. Laksusda Jawa Barat memanggil Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Indro Tjahjono, Al Hilal Hamdi, dan Ramles Manampang Silalahi untuk kemudian diadili dan dipenjara. Normalisasi Kehidupan Kampus diberlakukan, DM se-Indonesia dibubarkan, pemerintah mengajukan konsep SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) sebagai pengganti Dewan Mahasiswa, namun ditolak karena terlalu kuatnya intervensi pemerintah dan birokrasi kampus pada organisasi tersebut.
    1979 Pembentukan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) sebagai organ operasional kebijakan NKK disikapi dengan penolakan mahasiswa ITB. Akibatnya lembaga ini tidak pernah jelas eksistensinya.
    1979-1982 Tekanan kuat dari Rektorat untuk membubarkan DM dengan surat ancaman DO untuk setiap Ketua Umum terpilih. Buku Biru diterbitkan sebagai lanjutan penerbitan Buku Putih.
    1982 Dipelopori oleh 22 Ketua Himpunan dan 44 Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa, Dewan Mahasiswa ITB akhirnya membubarkan diri, kaderisasi dan cita-cita DM dikembalikan ke himpunan masing-masing sebagai kantung gerakan. Suatu saat himpunan tersebut siap dipanggil untuk bersatu kembali. Forum Ketua Himpunan Jurusan (FKHJ) terbentuk sebagai wadah koordinasi gerakan antar himpunan jurusan dan Badan Koordinasi Unit Aktivitas (BKUA) terbentuk sebagai wadah koordinasi gerakan antar unit kegiatan. FKHJ dipimpin oleh Hendardi (Ketua HMS) dan Umar Juoro (Ketua HIMAFI). Pada masa ini juga muncul kelompok-kelompok studi mahasiswa.
    1983 Demonstrasi menentang rally mobil yang mewabah saat itu, karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi bangsa.
    1985 Demonstrasi menyambut PM Inggris Margareth Thatcher.
    1986 Demonstrasi menyambut Presiden Francois Mitterand dengan memotong kepala bebek sebagai perlambang agar bangsa Indonesia jangan membebek pada bangsa Barat.
    1987 Protes kepada Kedubes Perancis akibat adanya teror kelompok ‘Skinhead’ terhadap mahasiswa Indonesia. Terbentuknya Presidium FKHJ yang dpimpin oleh Hotasi Nababan, Fadjroel Rachman. Terbentuk pula Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung sebagai wadah gerakan mahasiswa Bandung.
    1988 Mimbar bebas pada hari pahlawan, aksi anti helm, intifadah
    1989 Aksi-aksi menentang pembebasan tanah dengan semena-mena di Kacapiring, Cimacan, Kedung Ombo, dan Badega. Longmarch Bandung-Badega oleh mahasiswa ITB untuk menghalangi buldoser yang akan mengeksekusi tanah Badega. Pada tanggal 5 Agustus 1989 terjadi insiden dalam acara Penataran P-4 oleh Mendagri Rudini. Saat itu beberapa mahasiswa akan menangkap Mendagri karena dianggap bertanggung jawab membawahi pemerintah lokal yang berkolusi dengan penguasa. 11 orang ditangkap dan 6 diantaranya dipenjarakan, diantaranya Fadjroel Rachman, Jumhur Hidayat, Enin Supriyanto.
    1990 Keluar surat dari Mendikbud Fuad Hasan yang meminta didirikannya SMPT di seluruh Indonesia.
    1992 OSKM diadakan kembali atas dasar permintaan Rektorat untuk melakukan penyambutan dan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru angkatan 1992. Terbentuknya Forum Aktivis Lemabaga Mahasiswa yang beranggotakan aktivis mahasiswa se-Jawa Madura dan Bali.
    1993 Referendum pembentukan Lembaga Sentral Mahasiswa.
    1994 Advokasi terhadap dua fungsionaris HMFT yaitu Yos Alfa dan Melyana (FT’90)
    1995 OSKM’95 berlangsung dengan tema ‘Pahlawan dari Rakyat yang tertindas’
    20 Januari 1996 Kongres, FKHJ dan BKSK mendeklarasikan berdirinya kembali KM ITB.
    Maret 1996 Keluar surat edaran dari PR III yang meminta nama lembaga sentral mahasiswa adalah Senat Mahasiswa ITB, yang ditanggapi dingin oleh mahasiswa. PR III yang baru mengadakan manuver dengan mengadakan registrasi terhadap seluruh organisasi mahasiswa. 5 Himpunan yaitu HIMATEK, GEA, HMT, PATRA, dan HMP disegel karena menolak registrasi. Selain itu karena terjadi kasus Zaki T.L (FI’95) yang meninggal setelah melewati OS di HIMAFI (PPAM) dan mengakibatkan sanksi DO bagi Budi (Ketua PPAM) dan Ridjal (Ketua HIMAFI), OSKM dilarang.
    April 1996 Deklarasi kesatuan gerakan mahasiswa Bandung
    1996-1997 Berbagai forum diadakan untuk mendirikan lembaga sentral mahasiswa antara lain forum TVST, PILT, dan BPI. Tidak dihasilkan kesepakatan mengenai bentuk organisasi kemahasiswaan. Forum BPI diketuai oleh Haru Suwandharu (BI’93, Ketua HIMABIO ‘Nymphaea’). Dan Forum TVST diketuai oleh Vijaya Vitrayasa (MS’94, Kepala GAMAIS)
    1998 FKHJ membentuk Satgas KM ITB untuk Reformasi yang diketuai oleh Depi Rustiadi (TG’94) dan Widdy (PL’95) sebagai Sekjen. Satgas ini berperan penting dalam ‘Deklarasi Ciganjur’ yang menyepakati bahwa kepemimpinan nasional harus segera diganti. Dibentuk juga Tim Beasiswa KM ITB untuk melaksanakan program beasiswa dari, oleh dan untuk mahasiswa. Selain itu Muker 7-10 Juni di Ciwidey menghasilkan Konsepsi dan AD/ART KM ITB. Pemilu dilangsungkan pada bulan Oktober dan Vijaya Vitrayasa (MS’94) keluar sebagai pemenang atas Ahmad Shalahudin (TI’94), Khalid Zabidi (SR’93) dan Heldy (FT’94).
    Kepengurusan periode ini juga diwarnai dengan 2 surat pernyataan himpunan ( HMT & HME ) yang yang secara meminta kongres memberikan memorandum kepada Presiden KM ITB karena kinerjanya yang dianggap tidak memuaskan. Komunikasi dengan lembaga2 kemahasiswaan di dalam kampus memang menjadi masalah terbesar yang dihadapi kabinet.
    Terlalu lamanya kemahasiswaan ITB tidak dipayungi lembaga terpusat menyebabkan kurangnya rasa butuh terhadap KM ITB apalagi ditambah dengan konsepsi kemahasiswaan terpusat (Konsep KM ITB) yang tidak tersosialisasi dengan baik ke seluruh mahasiswa.
    1999 Gerakan Lumbung Kota sebagai bentuk kepedulian mahasiswa akan langkanya barang kebutuhan pokok.
    Agustus 1999 Peserta OSKM’99 melakukan aksi SINDU (Studi dan Implementasi Desa Terpadu) di Cipatat.
    Oktober 1999 Kontroversi mengenai kinerja Kabinet pertama mengakibatkan Vijay dipercepat jabatannya dan diganti Caretaker. Pemilu kedua diadakan dan menghasilkan pemenang Sigit Adi Prasetyo (IF’95) mengalahkan Nurul Wajah Mujahid (KL’95), Zaid Perdana (TL’96), Dedi Apriadi (GL’97) dan Iqbal Alfajri (DS’96) Puncaknya adalah pernyataan bersama 15 himpunan pada saat pelantikan presiden KM ITB yang kedua ( November 99) yang isinya adalah memberikan memorandum kepada kabinet untuk memperbaiki kinerjanya.
    Februari 2000 Pertama kali diadakannya Olimpiade KM ITB dimana HMT keluar sebagai juara umum. Sempat terjadi insiden pembakaran jas almamater akibat adanya sponsor rokok ‘A Mild’ yang dianggap telah menjual kemahasiswaan ITB.
    Agustus 2000 OSKM kali ini adalah OSKM dengan peserta terkecil jumlahnya (400an peserta) akibat ilegal.
    Oktober 2000 Akibat terlalu larutnya Kongres dalam membahas amandemen AD/ART, panitia pelaksana Pemilu 2000 terbentuk 2 Minggu sebelum tanggal turunnya Presiden Sigit. Panpel yang dipimpin Safari (TK’97) terus mengulur-ulur waktu. 6 kandidat antara lain Zaid Perdana (TL’96), Andri Dwi Setiawan (PN’96) Muhammad Iqbal (GL’96), Muhammad Lutfi (TI96), Dedi Apriadi (GL’97) batal mengikuti pemilu. Akhirnya bulan November 2000, Kongres mengeluarkan ketetapan perpanjangan jabatan Presiden selama 6 bulan sampai Maret 2001.
    Januari 2001 KM ITB menggulirkan isu Buloggate dan Bruneigate untuk menjatuhkan Presiden Abdurrahman Wahid. Sementara itu FKHJ mulai menggulirkan isu penggulingan Presiden Sigit.
    10 Maret 2001 Dimotori oleh IMG, HIMAFI, PSIK, Veritas dan Komunitas Ganesha 10, FKHJ melakukan pendudukan terhadap Sekretariat KM ITB. FKHJ menyatakan penonaktifan Kongres dan Kabinet KM ITB serta mengambil kekuasaan legislatif dan eksekutif. Selain itu FKHJ juga membentuk tiga Badan Pekerja yaitu Panitia Pemilu untuk mengadakan pemilu legislatif secepatnya, Panitia OSKM 2001, dan Panitia Muker untuk mengamandemen AD/ART. Pemilu legislatif berhasil memilih senator berbasis massa himpunan, Kongres kali ini dipimpin oleh Dedi Suryadi (PL’97). Karena dimulainya era otonomi kampus, Kongres memutuskan mengirimkan Anggota MWA wakil mahasiswa Rian Ramadian Nugraha (IF’97).
    Agustus 2001 OSKM kali ini dipimpin Dinar Maulana (IMG’98). Sebelumnya sempat terjadi insiden pemukulan terhadap pihak yang mendiskreditkan salah seorang petinggi OSKM.
    Oktober 2001 Pemilu kali ini tercatat dalam sejarah KM ITB sebagai Pemilu dengan kandidat terbanyak (7 orang). Akbar Hanif Dawam Abdullah (PN’98) terpilih sebagai Presiden mengalahkan Dedi Apriadi (GL’97), Armenda (SI’97), Adiq Ahmadi (MT’97), Roy Baroes (GM’97), Edison Situmorang (EL’97), sedangkan Khairul Anshar (FI’98) mengundurkan diri sebelum pemungutan suara.
    Desember 2001 Pertemuan BEM se-Bandung Raya di kampus ITB.
    Maret 2002 Alga Indria (DS’98) menjadi pemenang pemilu KM ITB mengalahkan Abdi Robbi Sembada (SI’98), Dwi Lesmana (PL’99), M. Hanif (TI’98), dan Andy Hartono (TK’98).
    Agustus 2002 Setelah sekian lama, akhirnya OSKM dinyatakan legal oleh rektorat, acara Swasta ditiadakan, dan metode kekerasan diganti dengan metode disiplin. OSKM kali ini diketuai oleh Ahmad Mukhlis Firdaus (HMS’99). Selain itu pertama kali dalam sejarah KM ITB diadakan acara Open House Unit yang bertujuan membuka rekrutmen terbuka untuk Unit Kegiatan Mahasiswa.
    1-2 Februari 2003 Pertemuan BEM Nasional di ITB
    Maret 2003 Ahmad Mustofa (TK’99) menjadi Presiden kelima mengalahkan Saifullah (SI’99), dan Hendro (TA’99). Sementara itu Adi Nugroho (FI’99) mengundurkan diri sebelum pemungutan suara. Pemilu Anggota MWA Wakil Mahasiswa menghasilkan Fantri Azhari (MS’99) sebagai pemenang.
    Mei 2003 Aksi longmarch Bandung-Jakarta untuk memperingati 5 tahun reformasi.
    Juni 2003 Aksi penolakan USM-PMBP yang dianggap sebagai jalan komersialisasi kampus. Saat itu terbentang spanduk ‘Selamat Datang Putra-Putri Termahal Bangsa’ untuk menyambut calon mahasiswa baru 2003. Isu ini sempat menjadi isu nasional bersama PT BHMN lain.
    Juli 2003 Aksi 1500 massa BEM Bandung Raya menuntut turunnya Mega-Hamzah. Peluncuran “Selamatkan Indonesia” oleh KM ITB.
    Agustus 2003 OSKM diketuai oleh Anwar Rustanto (HMM’00). Pada acara penutupan terjadi kericuhan antara panitia dengan swasta akibat insiden mengenai lagu kampus.
    Desember 2003 pembentukan Satuan Tugas Penyikapan Pemilu RI 2004 yang diketuai oleh Otep Kurnia (MA’99).
    Februari 2004 ITB Fair diadakan pertama kalinya di kampus ITB dengan tujuan memasyarakatkan teknologi. Aksi menolak Dialog Calon Presiden oleh PSIK yang mengundang Prabowo Subianto. Aksi ini dilakukan Kabinet bersama HMD.
    Program Desa Binaan sebagai bentuk Pengabdian Masyarakat KM ITB
    Maret 2004 Pemilu KM ITB tercatat sebagai Pemilu dengan kandidat tersedikit yaitu Anas Hanafiah (EL’00) dan Oskar Pariang Pakpahan (GM’00). Sempat terjadi kericuhan akibat hilangnya dua kotak suara. Anas memenangkan pemilu dan menjadi Presiden keenam.
    April 2004 Aksi pembakaran ban oleh Kabinet bersama Satgas Pemilu KM ITB akibat pengambilalihan acara ‘Kupas Tuntas’ Capres RI Amien Rais oleh Rektorat. Kabinet juga mengadakan aksi menolak kedatangan Siswono Yudohusodo karena dianggap sebagai bagian dari rezim Orde Baru.
    Juli 2004 Aksi menolak hasil Pemilu 2004 akibat banyaknya indikasi kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Bersamaan dengan aksi tersebut, Student Center diratakan dengan tanah untuk diganti dengan Campus Center.
    Agustus 2004 OSKM kali ini diketuai Goris Mustaqim (SI’01). Pada saat acara OHU, beberapa mahasiswa melakukan aksi pembakaran Jas Almamater dan bendera KM ITB sebagai bentuk keprihatinan terhadap matinya dunia kemahasiswaan. Aksi ini ternyata berbuntut panjang sehingga disepakati akan membentuk Forum Rembug Mahasiwa. Forum ini menyepakati bahwa Kabinet dan Kongres harus memperbaiki kinerjanya, adanya kaderisasi berjenjang, dan Himpunan akan mengirim senator.
    September 2004 Terdapat beberapa selebaran yang bertuliskan mengenai permohonan maaf seseorang yang dianggap melakukan penghinaan agama. Pada bulan ini juga muncul insiden Class Aksutik ‘A Mild’ yang menghadirkan Marcell dan Dygta. KM ITB menyatakan menolak acara tersebut selain tidak jelas manfaatnya bagi mahasiswa, acara ini juga menggunakan sponsor rokok.
    Oktober 2004 KM ITB menginisiasi sebuah acara besar bertajuk ‘Gema Nusa’ (Gerakan Membangun Nurani Bangsa) di lapangan silang Monas dengan menghadirkan Presiden RI terpilih Susilo Bambang Yudhoyono.
    10 Desember 2004 Kedatangan Dr. Anwar Ibrahim untuk mengisi seminar “Perkembangan Demokratisasi Di Asia” disambut hangat mahasiswa ITB.
    31 Desember 2004 Aksi peduli bencana tsunami Aceh bersama BEM Unpad. Aksi ini diadakan saat pergantian tahun 2004 ke 2005
    Januari 2005 Pengiriman relawan ke Aceh.
    Februari 2005 Aksi penolakan kenaikan BBM, KM ITB mengadakan aksi dengan motor sampai ke Lapangan Tegallega. Penolakan kenaikan harga BBM ini juga diikuti oleh aksi mogok makan oleh Sandra, Wira, Agus, dan Ramses di gerbang Selatan ITB.
    Terlaksananya OS Gabungan yang diketuai Fitrah Dinata (SI’02)
    Maret 2005 Olimpiade ke-III KM ITB dimenangkan oleh IMG.
    April 2005 Muhammad Syaiful Anam (EL’01) terpilih sebagai Presiden ketujuh. Pemilu kali ini sebenarnya diikuti tiga kandidat yaitu Anam, Wiyono (TA’01) dan Ramses (TG’01) namun Ramses didiskualifikasi oleh Panitia.
    21 Mei 2005 Launching gerakan ‘Kampus Cerdas’ untuk mengurangi budaya mencontek di mahasiswa ITB.
    Juni 2005 Fitrah Dinata terpilih sebagai Ketua OSKM 2005. Rektorat menolak nama OSKM dan mengganti dengan nama PSAK (Pengenalan Satuan Akademik dan Kemahasiswaan).
    17 Agustus 2005 tepat pada saat peringatan 60 tahun Indonesia Merdeka, KM ITB mengadakan aksi keprihatinan mengenai tingginya jumlah mahasiwa yang di-DO setiap awal tahun akademik. Hal ini menunjukkan belum beresnya sistem pendidikan di ITB.
    September 2005 Keluar surat edaran Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan mengenai pelarangan kaderisasi bagi 2005 yang disikapi beragam oleh himpunan-himpunan. Saat itu juga KM ITB menggulirkan isu tolak kenaikan BBM yang rencananya dilakukan pada tanggal 1 Oktober 2005.
    1 Januari 2006 ART ITB disahkan oleh MWA. Poin kontroversial dalam ART ini adalah adanya pengaturan mengenai struktur baru kemahasiswaan sebagai implikasi perubahan sistem di ITB. KM ITB mengeluarkan surat menyatakan menolak implementasi ART ITB yang merugikan mahasiswa.
    Februari 2006 Program Keroyok Kampus oleh Presiden Anam, saat itu kampus ITB diramaikan oleh acara-acara KM seperti Bedah Buku ‘Confessions of an Economic Hitman’, Pekan Baca Tulis, SIMS, ITB Fair, Pesta Rakyat, dll.
    Maret 2006 Pemilu kali ini diikuti oleh enam kandidat yaitu Dwi Arianto Nugroho (TK’02), Andi M. Adiwiarta (GM’02), Syahfitri (KI’02), Hendrajaya (IF’02), Indira (IL’02), dan Kisko (FI’03). Sempat terjadi kericuhan karena adanya kesalahan teknis Panpel dan kandidat menganggap panitia tidak konsisten dalam menerapkan aturan pemilu. Semua kandidat mengundurkan diri kecuali Dwi dan Syahfitri. Hampir semua Himpunan menyatakan pemilu gagal. Pemilu akhirnya diulang dan diikuti oleh Dwi, Syahfitri, Andi, dan Jaya, serta calon baru M. Luthfi (FT’03).
    April 2006 Dwi Arianto Nugroho memenangkan pemilu dan menjadi Presiden kedelapan.
    Mei 2006 KM ITB menginisiasi gerakan peduli sampah Kota Bandung. Di akhir bulan juga KM ITB mengirim tim relawan bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
    Juni 2006 Zam Zam Badruzaman (HIMAFI’03) terpilih sebagai Ketua OSKM 2006
    20-21 Agustus 2006 Kontroversi soal legalitas OSKM 2006 berakhir dengan terlaksananya OSKM 2006 hanya dalam dua hari. Peserta OSKM 2006 adalah peserta dengan jumlah terkecil sepanjang sejarah, 136 orang. OSKM kemudian ditutup dengan aksi masuk kampus dengan peserta ratusan mahasiswa ITB.
    November 2006 Seminar Nasional yang diisi oleh Presiden RI ke-3 BJ Habibie menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat Bandung
    Januari 2007 Rangkaian Seminar dan Workshop “Sekantor” atau Sekolah Anti Korupsi diakhiri dengan perayaan ulang tahun KM ITB.
    Februari 2007 Olimpiade ke-IV menghasilkan MTI sebagai juara umum.
    Maret 2007 Pemilu KM ke-8 menghasilkan Zulkaida Akbar (FI’03) sebagai Presiden, mengalahkan Army Alghifari (MS’04).
    7 April 2007 Kedatangan Wapres Jusuf Kalla yang mengakibatkan tertutupnya kampus untuk mahasiswa dan dosen.
    Juni 2007 Kasus kecelakaan motor pasca syukuran Kaderisasi KMSR 2006 mengakibatkan turunnya surat ancaman skorsing bagi Presiden KMSR, Ketua Kaderisasi, dan Ketua Angkatan 2006. Selain itu juga ada ancaman pembekuan KMSR. Kabinet bersama himpunan-himpunan memutuskan untuk menolak sanksi tersebut dan melakukan aksi massa di gedung Rektorat.
    Agustus-September 2007 Rangkaian acara Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2007 yang diketuai Agung Thaufika (HIMATIKA’04) sukses dalam melakukan pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru 2007.
    16 November 2007 Aksi penolakan terhadap alumni yang dianggap mencoreng nama almamater oleh Gabungan Aksi Mahasiswa (GAM) ITB yang sesuai dengan momentum Kongres Ikatan Alumni ITB dan terseretnya nama Laksamana Sukardi, Ketua Umum IA Pusat sebagai tersangka kasus korupsi di Pertamina.
    They’ve made their history, now it’s time to us to make our history!
    Inilah Pimpinan-Pimpinan Mahasiswa ITB
    Era Dewan Mahasiswa ITB
    1960-1962 Piet Corputty
    1962-1963 Udaya Hadibroto
    1963-1965 Muslimin Nasution
    1965-1967 Rahmat Witoelar
    1967-1968 Purwoto Handoko
    1968-1969 Sarwono Kusumaatmadja
    1969-1970 Wimar Witoelar
    1970-1971 Syarif Tando
    1971-1972 Sjahrul
    1972-1973 Tri Herwanto
    1973-1974 Muslim Tampubolon
    1974-1975 Prasetyo Sunaryo
    1975-1976 Daryatmo, Ivan Isaq, Muhammad Najib, Khairullah Harun
    1976-September 1977 Kemal Taruc (dijatuhkan MPM)
    September-November 1997 Caretaker Presidium: Al Hilal Hamdi, Muhammad Iqbal, Sukmadji Indro Tjahyono, Ramles Manampang Silalahi
    1977-1978 Heri Akhmadi
    Desember 1978-Maret 1979 Caretaker Presidium: Faletehan Siregar, Herdi Waluyo, Indra Cahya, Jusman Syafii Djamal, Mathias Thoib, Sugeng Setiadi
    1979-1980 Aussie Gautama
    1980-1981 Iwan Basri
    1981-1982 Agus Suroto (sekaligus Ketua MPM ITB)
    Era Forum Ketua Himpunan Jurusan ITB
    1982 Hendardi, Umar Juoro
    1986 Syahganda, Ucok Lubis
    1987 Hotasi Nababan, Fadjroel Rachman, Amarsah, Theodorus Ondos Koekeritz, Didi Yakob
    1988-1989 Yaya, Bambang
    Era Keluarga Mahasiswa ITB
    1996-1998 Hafiz (SC Pendirian KM), Yan Ardiansyah (Ketua Kongres)
    1998-1999 Vijaya Vitrayasa
    1999-Maret 2001 Sigit Adi Prasetyo
    Oktober 2001-Maret 2002 Akbar Hanif Dawam Abdullah
    2002-2003 Alga Indria
    2003-2004 Ahmad Mustofa
    2004-2005 Anas Hanafiah
    2005-2006 Muhammad Syaiful Anam
    2006-2007 Dwi Arianto Nugroho
    2007-2008 Zulkaida Akbar

  • Mengenai Saya

    Foto saya
    Netherlands
    Software Engineer based in The Netherlands | Indonesian | ITB | Writing as hobby
    Diberdayakan oleh Blogger.

    SERVICE

    BENEFIT

    CONTACT US

    OSKM ITB 2013

    • Jalan :Bukit Dago Utara 1 00
    • Kota :Bandung
    • Provinsi :Jawa Barat
    • Telepon :085725xxxxxx
    • Emailhalohalo@gmail.com

    Inquiry